asuransi
LifeSpend

6 Prinsip Asuransi yang Perlu Diketahui

6 Prinsip Asuransi yang perlu diketahui – Pada dasarnya terdapat 6 prinsip asuransi yang penjabarannya tertulis dalam polis asuransi. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Dagang pasal 246 asuransi adalah sebuah perjanjian. Ketika kita membeli asuransi, kita akan mendapatkan polis yang berisi pasal-pasal mengenai syarat dan ketentuan yang mengikat perjanjian antara kita sebagai tertanggung dengan perusahaan asuransi sebagai penanggung. Namun sayangnya, kebanyakan polis ditulis dengan huruf yang cukup kecil sehingga kita sering malas membacanya dan hanya mengandalkan penjelasan dari petugas asuransi.

Nah untuk sedikit membantu memahami perjanjian asuransi yang tertulis di dalam polis, berikut ini adalah penjelasan singkat dari 6 prinsip asuransi yang harus dipegang teguh dalam sebuah perjanjian asuransi

Prinsip Asuransi 1 : Insurable Interest

Insurable interest adalah adanya kepentingan keuangan dari tertanggung (yang mengasuransikan) terhadap obyek pertanggungan (obyek yang disuransikan) dan diakui secara hukum. Misalnya, ada seseorang yang mengasuransikan sebuah mobil, maka orang tersebut harus memiliki kepentingan keuangan dengan mobil itu dan dapat dibuktikan secara hukum.

Artinya, jika terjadi sesuatu – misalnya kecelakaan atau hilang – maka orang tersebut akan mengalami kerugian keuangan. Dan kepentingan itu harus dibuktikan secara hukum dengan bukti kepemilikan berupa BPKB dan STNK. Jadi, seseorang tidak bisa mengasuransikan mobil tetangganya, karena dia tidak punya kepentingan keuangan terhadap mobil tersebut.

Mungkin pernah mendengar seorang pemain sepakbola yang mengasuransikan kakinya? Ya, itu karena sang pesepak bola memiliki kepentingan keuangan dengan kakinya. Jika terjadi sesuatu dengan kakinya, maka dia dapat kehilangan penghasilan.

Insurable interest dapat timbul bukan hanya karena kepemilikan saja, tetapi juga bisa karena suatu kontrak hukum seperti perjanjian kredit, atau karena peraturan undang-undang lainnya.

Prinsip Asuransi 2 : Utmost Good Faith

Prinsip ini menyatakan bahwa perjanjian asuransi harus dilandasi dengan itikad baik. Kedua belah pihak wajib mengungkapkan semua hal penting terkait perjanjian asuransi ini. Kita, sebagai tertanggung atau pihak yang mengasuransikan harus menjelaskan dengan lengkap, tidak ada yang disembunyikan/ditutup-tutupi mengenai obyek yang kita asuransikan.

“Misalnya, jika kita mengasuransikan mobil, maka harus kita ungkapkan jika ada bagian mobil yang sudah cacat sejak awal, atau jika ada peralatan non-standar yang sudah ditambahkan. Untuk asuransi kesehatan, kita harus menjalani general check-up untuk mengetahui dengan rinci penyakit apa saja yang diderita atau berpotensi diderita”.

Sebaliknya, perusahaan asuransi juga harus menjelaskan sejelas-jelasnya bukan hanya kewajiban tertanggung tetapi yang terpenting adalah hak-hak tertanggung. Jika ada kondisi yang tidak ditanggung atau tidak diganti, harus dijelaskan dari awal sehingga tidak ada perselisihan di kemudian hari. Beberapa perusahaan asuransi sudah ada yang membuat buku polis untuk menjelaskan hal-hal penting yang tercantum dalam polis sebagai upaya menjalankan prinsip utmost good faith ini.

[ Baca Juga : 4 Asuransi Yang Sebaiknya Dimiliki ]

Prinsip Asuransi 3 : Proximate Cause

Secara sederhana prinsip ini bisa diartikan sebagai “ penyebab dominan terjadinya risiko “. Jadi, ketika terjadi suatu kerugian (kecelakaan/sakit/meninggal), maka harus diteliti apa penyebab yang dominan terjadinya kerugian tersebut. Setelah diketahui penyebab dominannya barulah kita teliti lagi polisnya, apakah resiko bisa ditanggung atau tidak.

“Misalnya, seseorang patah kakinya. Patah kaki merupakan kerugian yang diganti oleh  asuransi. Namun ketika ditelusuri, orang ini mengalami patah kaki ketika melompat dari jembatan penyeberangan karena mencoba bunuh diri, kita teliti lagi polisnya, ternyata di polis tercantum bahwa kerugian tidak diganti dalam kasus bunuh diri atau percobaan bunuh diri”.

Prinsip Asuransi 4 : Indemnity

Prinsip ini adalah prinsip mengembalikan kondisi tertanggung pada kondisi sesaat sebelum terjadinya kerugian. Jadi dalam perjanjian asuransi tidak boleh ada pihak yang diuntungkan baik tertanggung ataupun penanggung. Selain itu maksimal ganti rugi yang dibayarkan oleh pihak asuransi adalah sebesar nilai pertanggungan yang tercantum pada polis.

“Misalnya, jika kita kehilangan mobil Toyota Avanza produksi tahun 2010, maka ketika mobil itu hilang, maka ganti rugi yang diberikan adalah berupa mobil Toyota Avanza keluaran tahun 2010 juga, bukan Toyota Avanza yang baru. Jika diganti dalam bentuk uang, maka ganti rugi diberikan senilai harga pasar Toyota Avanza 2010, karena sebesar itulah kerugian keuangan yang diderita oleh kita”.

Begitu juga ketika kita memiliki 2 asuransi kesehatan. Ketika kita sakit, jika klaim kita sudah dibayar oleh satu asuransi, maka kita tidak dapat mengajukan klaim lagi kepada asuransi yang kedua, karena itu berarti kita akan diuntungkan karena mendapat penggantian dua kali lipat dari biaya yang sebenarnya. Perusahaan asuransi memiliki prosedur sendiri untuk menjaga agar hal ini tidak terjadi, salah satunya adalah dengan mewajibkan melampirkan kwitansi dan resep asli dari dokter atau pihak rumah sakit terkait.

[ Baca Juga : Halofina Aplikasi Perencanaan Keuangan & Investasi ]

Prinsip Asuransi 5 : Subrogasi

Prinsip asuransi ini berkaitan dengan prinsip indemnity dalam hal jika ada pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya kerugian. Jika pihak penanggung (perusahaan asuransi) telah membayarkan ganti rugi kepada tertanggung, maka timbul hak perusahaan asuransi. Adalah hak subrogasi, hak untuk meminta ganti rugi/kompensasi kepada pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya kerugian. Dan sebaliknya tertanggung tidak berhak meminta ganti rugi kepada pihak ketiga tersebut karena melanggar prinsip indemnity.

“Misalnya, jika mobil yang sudah kita asuransikan ditabrak oleh kendaraan lain (kita sebut pihak ketiga). Perusahaan asuransi wajib memberikan ganti rugi kepada kita untuk mengembalikan kondisi mobil kita seperti keadaan sebelum ditabrak. Setelah ganti rugi dibayarkan, kita tidak boleh meminta ganti rugi kepada pihak ketiga, tetapi asuransi lah yang akan meminta ganti rugi kepada pihak ketiga yang telah menabrak mobil kita”.

Prinsip Asuransi 6 : Kontribusi

Arti dari prinsip asuransi ini adalah beberapa penanggung memberikan kontribusi atau menanggung secara bersama-sama satu obyek pertanggungan. Hal ini terjadi jika harga obyek pertanggungan sangat besar. Dalam hal pembayaran klaim atau ganti rugi, masing-masing pihak membayar sesuai porsi atau persentase kontribusinya, sehingga tetap memenuhi prinsip indemnity.

cek kondisi kesehatan keuangan pribadi dengan aplikasi halofina - financial check up
Download Aplikasi Halofina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *